KERTAS TISU ( CERBER )

Oleh SITI RAHMI
SMPN 3 BATAM

Pembelajaran bab klasifikasi makhluk hidup hampir rampung, diskusi kelas dari lembar kerja siswa kelompok terakhir telah selesai. Guru Biologi ku menyelesaikan dengan kesimpulan dan trik cepat penentuan termasuk klasifikasi apa sebuah data makhluk hidup. Kepalaku terangguk angguk memahami kata beliau. Catatan Biologi yang terkembang sejak diskusi telah penuh dengan coretan selama pembelajaran dan ditutup dengan trik dari pak Supar dengan nama asli Subagio Parnoto.

Buku Biologinya boleh disimpan dan ibu minta waktu istirahat kamu sejenak. Suara  khas bu Lastri tegas tapi merdu ditelinga. Sosok wali kelas yang ku suka. “Permisi ibu”, salam sapa sopon pak Supar sambil tundukan kepala kearah bu Lastri.

“Silahkan pak, terima kasih” jawab bu Lastri membalas anggukan kepala.

“Ujian tengah semester minggu depan, jadi pastikan laptopmu sudah terinstal aplikasi ujian sekolah”, Kalimat tegas bu Lastri ditengah diam kami.

Kami sangat segan ke bu Lastri, tak ada yang berani melawan bila beliau sudah memberikan arahan, sering beliau bagai sahabat jika dalam situasi qualitytime bersama kami akan jadi bijaksana menanggapi keinginan siswa kelasnya.

“ ada kendala?”, Tanya bu Lastri.

“tidak bu…”, Jawab kami hampir serempak.

“baik silahkan istirahat dan gunakan waktu sebaik baiknya”, kalimat penutup bu Lastri seketika berlalu dengan senyuman khas beliau.

“Tan kok diam saja dari tadi”, tanyaku pada Tania yang duduk didepan. Senyum balasan dari Tania sambil mengajak ku berlalu dari kelas ke payung bawah pohon rindang.

“Win aku gak focus belajar tadi”, kalimat Tania membuka obrolan kami.

“ Ada masalahkah kamu Tan”, selidikku sampai kerut kening di balik jilbab.

“Ibuku win”, sepenggal kata itu membuat ku mendekati Tania. Yang kutahu keluarga Tania sedang sembrawut akhir akhir ini. Tak jelas duduk masalahnya. Semua isirumah yang hanya 3 orang itu bagai pasar. Kalimat sahut menyahut pernah ku dengar saat belajar bersama Tania di rumahnya. Terus terang aku tidak bisa menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar.

“Ibumu pergi lagi”, tanyaku seperti yang terjadi 2 minggu lalu.Kutemani Tania  menemui ibunya di rumah teman kantornya.

“Tidak”, jawabnya.

“Lebih dari itu Win”.

“Beliau pulang ke Papua tinggalkan aku dan ayah”, jawab Tania dingin. Tak ada air mata karena Tania pernah ungkapkan, air mataku sudah kering.

Nafas panjang yang kami hembuskan serentak seakan akupun merasakan berat beban Tania. Pelajaran Biologi, Tania paling jago. Nilainya tak pernah dibawah 90. Namun 2 bab yang berlalu Tania memang menurun.

“Tan kasih sayang ibumu tak akan pupus, beliau hanya perlu menenangkan pikiran”, hiburku tanpa bermaksud membela ibu Tania.

“Aku seakan tidak punya ibu lagi Win”. Tania tertunduk namun tak akan ada air mata bagi Tania. Sebenarnya Tania anak yang tegar dan kuat, pantang menyerah selalu berprinsip. Namun kali ini Tania meluluh, energi pantang menyerah luruh. Tatapannya kosong berkaca kaca namun tidak tumpah.

Kuberikan dompet blue terbuka ditengahnya, muncul kertas putih lembut pada Tania. Kuyakin ia butuh kertas tisu itu. Diambil lalu di gulung gulung kecil tanpa kata kata. Hanya ditatap seakan semua telah ditulis dalam KERTAS TISU.

Cerita fiksi seorang gadis yang kurang kasih sayang Tania namanya harus dikeluarkan dari sekolah akibat sikap tak seronok pada wali kelasnya.

Kertas tisu  barang bukti  yang menjerat Tania harus menerima nasib dari orang yang sangat dikagumi dan dicintainya.

Konflik Tania diantara hitam hidupnya dengan kekaguman terhadap gurunya menjadi penasaran cerita ini. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *