MEETING GURIS

Oleh SITI RAHMI
Guru SMPN 3 BATAM

Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) di masa pandemi ini, komunikasi guru dan siswa (untuk selanjutnya disebut guris) menjadi lebih intensif. Sekolah tempatku mengajar, SMPN 3 Batam memfasilitasi komunikasi guris tersebut dengan aplikasi pembelajaran yang juga digunakan sekolah lain, yaitu Google Classroom (GC). Guris cukup melakukan download 1 aplikasi saja yang ada di laptop ataupun smartphone yang dimiliki.

Adanya GC ini diharapkan komunikasi guris dapat terlaksana secara efektif. Dipilihnya aplikasi GC karena pengoperasiannya sangat mudah. Di samping itu, pengontrolan atau pertanggungjawaban kegiatan belajar mengajar secara daring juga menjadi mudah karena aplikasi ini bisa diarsipkan di Drive.

Akan tetapi, belum semua guru menggunakan pembelajaran berbasis aplikasi GC ini dengan baik. Sejak pertama kali PJJ dilaksanakan di negeri ini, aku masih meraba-meraba mengoperasikannya. Aku mengenal GC ini hanya sekedar memberikan materi tanpa melakukan penilaian.  Masih banyak hal yang harus dipelajari dari aplikasi GC ini.

Dengan datangnya tahun ajaran baru 2020/2021, Kepala Sekolah SMPN 3 Batam yang didampingi oleh Wakil Bidang Kurikulum, akhirnya  menetapkan aplikasi GC sebagai sarana pembelajaran selama masa pandemi COVID-19.  Tentu keputusan itu membuat guru mau tidak mau harus melek infomasi transaksi elektronik (ITE), setidaknya aplikasi GC ini.

Maka dari itu, dengan bermodalkan wifi sekolah yang dipasang  di 3 tempat, diyakini PJJ akan berlangsung sesuai aturan Covid-19 untuk para guru. Sambutan guru-guru dengan aplikasi ini sangat mengesankan. Semua guru senior maupun yang junior menjalankan dengan senang.

Hari pertama sekolah diberikan pelatihan secara bergantian untuk penggunaan aplikasi ini. Dimulai dengan pembagian akun pos-el ber-domain sekolah ke semua guru sampai penggunaan aplikasi.

Saat memanfaatkan Google Meet yang ada dalam aplikasi GC ini, semua guru merasakan semangat karena bisa bertatap muka meskipun secara virtual. Aku pun yang baru memahami Google Meet menjadikan rencana pembelajaran dapat diatur seperti yang sebelum adanya Covid-19.

Pembelajaran hari ke-2 dimulai menggunakan Google Meet dari wali kelas ke siswa. Wali kelas 8 dan kelas 9 sebanyak 24 orang telah menduduki ruang aula dengan berbekal benda kotak persegi yang disebut laptop. Para guru yang dibantu oleh pembina bidang IT sekolah, sangat antusias menjalankan Google Meet. Mereka tidak sabar menunggu rapat bersama. Guris “berjumpa” meski hanya di dunia maya. Satu demi satu suara siswa menyambut senang dapat bertatap muka dengan wali kelas mereka, begitu pula gurunya. Komunikasi guris sungguh cepat berlalu.

Kepala sekolah yang meninjau langsung sungguh terharu. Senang beliau melihat semangat para guru. “Bu mari kekelas saya,” ajak seorang guru senior kepada kepala sekolah. Seketika langung ibu kepala sekolah mendatangi sumber suara.

“Anak-anak ibu kelas 9.9, ini kita dikunjungi kepala sekolah, silakan sapa beliau,” arahan wali kelas pada siswanya.

“Assalamualaikum, Bu.” Hampir semua siswa membuka mikrofon  sehingga terdengar suara denging.

“Waalaikumsalam,” jawab Ibu Kepala Sekolah.

“Sekarang anak-anak ibu akan bisa bertatap muka dengan guru maupun wali kelas,” Ibu Kepala Sekolah berinteraksi dengan siswa.  “Gunakan sebaik baiknya, ya,” pesan Ibu Kepala Sekolah menutup sapaannya.  Ibu Kepala Sekolah pun bergantian diminta oleh wali kelas agar bisa meeting bersama siswa. Meskipun “berjumpa” di room meeting  dibatasi waktu, namun kerinduan guris terobati karena dapat menyapa secara daring.

“Pak saya belum ketemu anak saya,” tiba-tiba seorang guru meminta bantuan kepada pembina IT sekolah.

“Pak, suaranya ‘ngang nging ngung’,” panggilan dari guru lain

“Pak, tolong …”

“Pak mohon bantu,” sela yang lain.

Seketika ruang pertemuan sibuk dengan suara guru yang antusias menyongsong pembelajaran daring. Sementara, pembina IT beserta 2 staf beliau sibuk bolak-balik melayani guru guru yang mendapat kesulitan. Ada guru yang bahkan mengangkat laptopnya berusaha menyenangkan siswanya karena kangen dengan guru guru lain. Sapaan-sapaan guris membuat tawa dan lucu. Keriuhan suara guru di ruang pertemuan tersebut bukanlah  pertanda keluhan, akan tetapi sebagai wujud rasa semangat untuk bisa menjalankan hal yang baru akibat Covid-19 ini.

Sebelumnnya, pertemuan tatap muka  secara virtual juga pernah kulakukan menggunakan aplikasi Zoom, namun GC memberi solusi yang lebih kompleks karena dilengkapi dengan berbagai fitur yang menunjang pembelajaran. Baru ini aku memahami adanya Google Meet di aplikasi GC. Selama ini aku hanya mengenal GC sebagai sarana untuk mengirim materi dan menerima tugas dari siswa.

Tak lagi menjadi kendala PJJ dengan meeting guris ini. Pembelajaran dapat dilakukan dengan segala metode. Walaupun harus ada presentasi, hal itu memungkinkan karena fitur GC yang mendukung. Meeting guris menjadi salah satu pilihan terbaik menjalankan PJJ.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *